kepemimpinan

blogger templates

penawar supaya dapat menjauhi maksiat

a. PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang komprehensif, ia tidak hanya mengatur cara manusia menyembah Tuhannya, tetapi juga mengatur segala sendi kehidupan. Mulai dari tata cara hidup bermasyarakat, menuntut ilmu, bahkan juga mengatur tata Negara dan kepemimpinan.[1] Pemimpin dan kepemimpinan dalam Islam telah diatur dalam hukum Syari’at Islam yang kesemuanya itu berdasarkan petunjuk Rasulullah yang telah Allah wahyukan melalui kitabNya (al-Qur’an).
Setiap manusia pasti menyandang predikat sebagai seorang pemimpin, baik dalam tingkatan tinggi (pemimpin umat/Negara) maupun dalam tingkatan yang paling rendah, yaitu pemimpin bagi diri sendiri. Setiap bentuk kepemimpinan membutuhkan suatu keahlian. Kepemimpinan tidak bisa dijalankan hanya dengan kemampuan seadanya. Sebab, yang pasti hal itu akan menimbulkan gejolak di antara personil-personil yang dipimpinnya.[2]
Kepemimpinan merupakan salah satu tanggung jawab yang sangat besar karena hal itu merupakan amanah dari Allah, baik atau tidaknya sebuah kepemimpinan disebabkan oleh faktor pemimpin itu sendiri. Untuk itu di dalamnya ada dua pihak yang berperan antara lain yang dipimpin dan yang memimpin (imam).[3]
Jatuh bangunnya sebuah Negara paling sering disebabkan oleh faktor kepemimpinan. Dalam pentas sejarah kita lihat berbagai ilustrasi tentang sebuah Negera, ketika diruntut ditemukan hubungannya dengan tokoh pemimpin. Karena itu kepemimpinan menjadi faktor subtansial dalam sebuah Negara. 
Tokoh pemimpin (imam) menjadi harapan dalam penciptaan masyarakat adil dan makmur sebagai salah satu tujuan terbentuknya Negara. Karena itu pergeseran dari harapan atau penyimpangan dari makna hakiki kepemimpinan dan sikap keteladanan, menjadi sumber pemuasan ambisi, akan mengakibatkan munculnya pemerintahan tirani.[4] Keberhasilan seseorang dalam memimpin tidak saja ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat kepemimpinannya, tetapi yang paling penting adalah seberapa besar pengaruh baik yang dapat diberikan kepada orang lain.
Saat ini kita lihat Aceh hidup dalam kondisi yang multi krisis, terutama krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Banyaknya kasus yang terungkap tentang kisah nyata pemimpin dari tingkat tinggi maupun rendah, melakukan korupsi dan bertindak tidak jujur terhadap amanah rakyat, telah membuat luka hati dan rasa tidak percaya rakyat kepada pemimpin. Kondisi ini sangat menakutkan, karena bila pemimpin tidak lagi menjadi panutan maka rakyat akan bertindak brutal dan kehilangan kendali dalam bertindak, seharusnya pemimpin menjadi contoh bagi rakyat untuk melakukan perbuatan mulia, yang bertujuan menciptakan kenyamanan dan kesejahteraan bagi rakyat. Aceh sekarang ini kehilangan kepercayaan rakyat untuk para pemimpin, padahal kepercayaan merupakan modal utama pelaksanaan pembangunan ke arah yang lebih baik.
Di sekitar kita yaitu Aceh pada khususnya, terdapat banyak sekali contoh-contoh pemimpin dengan tipe gaya dan prinsip masing-masing. Ada pemimpin yang sangat menonjol prestasi kerja dan integritasnya, tetapi tidak dicintai oleh bawahannya karena kurang mampu membina hubungan baik dengan orang lain. penampilannya yang kaku, kurang ramah, dan tidak peka, membuat orang disekitarnya tidak bersimpati terhadap pemimpin tersebut. Ada juga pemimpin yang baik hati, pandai bergaul tetapi lamban dan kurang disiplin, akibatnya para bawahan tidak memiliki semangat juang dalam meningkatkan kinerjanya. Juga ada pemimpin yang sering menonjolkan dirinya dengan menganggap bahwa semua pekerjaan dilakukan karena dirinya, dan kurang menghargai prestasi orang lain. bersikap arogan, zalim, dan hanya berbaik hati untuk kerabat dekatnya saja.[5]
Seorang pemimpin yang memiliki integritas tinggi adalah orang-orang yang penuh keberanian, berusaha tanpa kenal putus asa untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Cita-cita yang dimiliki itu mampu mendorong dirinya untuk tetap konsisten dengan langkah-langkahnya. Ketika seseorang mencapai tingkat ini, maka orang lain akan melihat bagaimana aspek mulkiyah yaitu komitmen orang tersebut, sehingga orang akan menilai dan memutuskan untuk mengikuti atau tidak mengikuti. Integritas akan membuat seorang pemimpin dipercaya, dan kepercayaan ini akan menciptakan pengikut. Untuk kemudian terbentuk sebuah kelompok yang memiliki satu tujuan.
Mengingat begitu banyaknya pemimpin yang tidak sempurna, dalam arti tidak mampu mewujudkan sifat-sifat yang dicintai oleh rakyatnya, maka figur ideal kepemimpinan Rasulullah Saw sangat tepat untuk menjadi contoh teladan bagi pemimpin sesudahnya untuk menjalankan kepemimpinan berdasarkan suara hati dan bukan berdasarkan ambisi.[6] Kepemimpinan Rasulullah Saw sangat berpengaruh dalam peradaban manusia, beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat dicintai oleh umatnya, sang Nabi penutup yang lebih memilih Inner Beauty dalam kesehariannya, dan bukan hanya menampilkan sikap-sikap hanya untuk menarik perhatian dan simpati orang lain.
Sikap kepemimpinan Rasulullah Saw sangat berbeda dengan pemimpin di zaman sekarang, yang integritas mereka sangat rapuh oleh godaan harta dan kekuasaan. Pemimpin sekarang secara tersembunyi atau terang-terangan menerima dengan tangan terbuka bila ada tawaran uang atau harta benda lainnya oleh seseorang, walaupun itu menyalahi sumpah jabatan dan amanah yang telah dipercayakan oleh masyarakat kepadanya. Sikap Nabi Muhammad Saw yang konsisten dan tidak mengenal putus asa merupakan persyaratan penting untuk menjadi pemimpin yang dapat dipercaya.[7] 
Pemimpin Aceh saat ini baik di tingkat gubernur, bupati, camat, dan pemimpin lainnya dapat belajar dari kesuksesan kepemimpinan nabi dan para sahabat. Walaupun itu terasa sulit, tetapi bila diniatkan untuk bekal di hari akhir, maka hal itu akan terasa ringan. Begitu juga dengan teori-teori yang dikemukakan oleh pakar Islam tentang pemimpin ideal. Untuk semua rakyat Aceh kita harapkan dapat memilih pemimpin yang hatinya berlandaskan iman dan ketakwaan kepada Allah Swt janganlah memilih pemimpin karena uangnya, tetapi pilihlah pemimpin yang memang dia memiliki sifat dak kriteria seorang pemimpin di masa yang akan datang.

A.    Pengertian Pemimpin
Kata “pemimpin” dalam bahasa Arab disebut “Imamah” artinya kepala, penghulu, ketua asrama, ini makna kepemimpinan secara umum.[8]
            Menurut istilah ilmu Fiqh, Imamah diartikan dengan kepemimpinan dalam hal menjadi ketua dalam memimpin suatu pekerjaan seperti jama’ah shalat atau pemerintah. Kepemimpinan adalah “tanggungjawab kaum yang dikehendaki oleh peraturan syari’at untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat bagi ummat. Karena kemaslahatan akhirat adalah tujuan akhir, maka kemaslahatan dunia seluruhnya harus berpedoman kepada syari’at dalam memelihara urusan agama dan mengatur politik keduniaan”.[9]
            Dari difinisi ini dapat dipahami bahwa kepemimpinan adalah suatu tugas yang menyeluruh, mengurus segala urusan, baik agama maupun politik untuk satu tujuan yakni kemaslahatan hidup umatnya. Kesejahteraan umat manusia tidak dapat terwujud secara sempurna kecuali dengan masyarakat, untuk mengaturnya memerlukan pemimpin.
            Kepemimpinan menjadi sangat urgen dibicarakan secara ilmiyah, karena perkembangan zaman dan tekhnologi yang begitu pesat. Nilai kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh bakat alamnya, akan tetapi oleh kemampuan menggerakkan banyak orang untuk melakukan suatu kerjasama guna mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.[10]
            Kepemimpinan secara umum adalah untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmu-ilmu agama, menegakkan rukun Islam, memerintahkan jihad dan hal-hal yang berhubungan dengannya umpama mengatur tentara, mewajibkan peperengan, pemberian harta, menetapkan peradilan hukum-hukum, memberantas kezaliman dan mengarah berbuat ma’ruf serta mencegah kemungkaran, fungsinya sebagai pengganti Nabi Saw.[11]
            Semua pendapat di atas mengandung pengertian bahwa agama dan politik, dunia dan akhirat mempunyai kaitan erat yang tidak dapat dipisahkan dengan alasan tujuan manusia bermasyarakat bukan hanya untuk mencapai kebahagiaan material saja, tetapi lebih dari itu lagi adalah untuk mempersiapkan dan menanam modal kehidupan akhirat yang lebih sejahtera dan abadi, sehingga keseimbangan itu perlu dijaga untuk kemaslahatan hidup dunia dan akhirat. Dengan demikian, diantara kemampuan yang dituntut pada seorang pemimpin adalah kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan menggerakkan perilaku orang lain untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.[12]

B.     Kepemimpina Nabi Muhammad Saw
 Nabi Muhammad Saw lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, suatu tempat yang pada waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia. Jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Rasulullah Saw, wafat pada tahun 632 M, ketika beliau sudah dapat memastikan dirinya selaku pemimpin efektif seantero Jazirah Arab bagian Selatan. Kisah hidup beliau yang sangat menyedihkan, dengan kehilangan orang tua di masa kanak-kanak telah membentuk Rasulullah Saw menjadi peribadi yang kuat, pantang menyerah dan sangat jujur.[13] Dalam waktu yang relatif singkat kurang lebih dari 13 tahun rasulullah mampu menyatukan peradaban yang berbeda pada satu payung kebersamaan.  
Sifat ajaran Rasulullah Saw adalah intelektual dan spiritual prinsipnya adalah mengarahkan orang kepada kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan keberhasilan. Metode ilmiah seperti ini adalah yang terbaik yang pernah ada di muka bumi. Khususnya di bidang kepemimpinan dan akhlak, mampu memberikan kemerdekaan berfikir dan tidak menentang kehendak hati nurani yang bebas, tidak ada unsur pemaksaan yang menekan perasaan.
Semua yang diperaktikkan dalam tindakan Rasulullah Saw terasa begitu sesuai dengan suara hati, dan cocok dengan martabat kehormatan manusia. Sangat menjunjung tinggi hati dan pikiran manusia, sekaligus membersihkan belenggu yang senantiasa membuat orang menjadi buta. Dialah sebenarnya guru dari kecerdasan emosi dan kecerdasan spritual.
Rasulullah Saw adalah pemimpin abadi dan tauladan bagi seluruh manusia yang pengaruhnya tetap akan dikenang sepanjang masa. Beliau telah meletakkan dasar yang kokoh bagi pembangunan peradaban baru manusia di bumi yang sesuai dengan fitrah manusia, seperti yang telah Allah jelaskan dalam firmanNya:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.[14]

Ayat di atas menjelaskan hai orang-orang yang tidak mau berperang kamu memperoleh teladan yang baik pada diri Nabi. Maka, seharusnya kamu meneladani Rasulullah Saw dalam segala perilakumu. Rasulullah adalah contoh yang baik dalam segi keberanian, kesabaran, dan keteladanan menghadapi bencana. Orang yang mengharap pahala Allah dan takut kepada siksa-Nya, serta bayak mengingat Allah, akan memperoleh teladan yang baik seperti yang ada pada diri Rasulullah.[15]

C.    Karakteristik Pemimpin dalam Islam
Seorang pemimpin merupakan sentral figur dan profil panutan publik. Terwujudnya kemaslahatan umat sebagai tujuan pendidikan Islam sangat tergantung pada gaya dan karakteristik kepemimpinan. Dengan demikian kualifikasi yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin mencakup semua karakteristik yang mampu membuat kepemimpinan dapat dirasakan manfaat oleh orang lain.
Dalam konsep Syari’at Islam, kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin telah dirumuskan dalam suatu cakupan sebagai berikut:
1.      Pemimpin haruslah orang-orang yang amanah, amanah dimaksud berkaitan dengan banyak hal, salah satu di antaranya berlaku adil. Keadilan yang dituntut ini bukan hanya terhadap kelompok, golongan atau kaum muslimin saja, tetapi mencakup seluruh manusia bahkan seluruh makhluk. Dalam al-Qur’an surah an-Nisa’: 58 dijelaskan:
* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù'tƒ br& (#rŠxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAôyèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $JèÏÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ  
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

            Ayat di atas memerintahkan menunaikan amanat, ditekankannya bahwa amanat tersebut harus ditunaikan kepada ahliha yakni pemiliknya. Ketika memerintahkan menetapkan hukum dengan adil, dinyatakannya “apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia”. Ini bearti bahwa perintah berlaku adil itu ditunjukkan terhadap manusia secara keseluruhan.[16]

2.      Seorang pemimpin haruslah orang-orang yang berilmu, berakal sehat, memiliki kecerdasan, kearifan, kemampuan fisik dan mental untuk dapat mengendalikan roda kepemimpinan dan memikul tanggungjawab. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surah An-Nisa’: 83
#sŒÎ)ur öNèduä!%y` ֍øBr& z`ÏiB Ç`øBF{$# Írr& Å$öqyø9$# (#qãã#sŒr& ¾ÏmÎ/ ( öqs9ur çnrŠu n<Î) ÉAqß§9$# #n<Î)ur Í<'ré& ̍øBF{$# öNåk÷]ÏB çmyJÎ=yès9 tûïÏ%©!$# ¼çmtRqäÜÎ7/ZoKó¡o öNåk÷]ÏB 3 Ÿwöqs9ur ã@ôÒsù «!$# öNà6øŠn=tã ¼çmçGuH÷quur ÞOçF÷èt6¨?]w z`»sܸФ±9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÌÈ  
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri) kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Maksud ayat di atas adalah kalau mereka menyerahkan informasi tentang keamanan atau ketakutan itu kepada Rasulullah Saw apabila bersama mereka, atau kepada pemimpin-pemimpin mereka yang beriman, niscaya akan diketahui hakikatnya oleh orang-orang yang mampu menganalisis hakikat itu dan menggalinya dari celah-celah informasi yang saling bertentangan dan tumpang tindih.[17]

3.      Pemimpin harus orang-orang yang beriman, bertaqwa dan beramal shaleh, tidak boleh orang dhalim, fasiq, berbut keji, lalai akan perintah Allah Swt dan melanggar batas-batasnya. Pemimpin yang dhalim, batal kepemimpinannya.
4.      Bertanggung jawab dalam pelaksanaan tatanan kepemimpinan sesuai dengan yang dimandatkan kepadanya dan sesuai keahliannya. Sebaliknya Negara dan rakyat akan hancur bila dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw “Apabila diserahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya maka tungguhlah kehancuran suatu saat”.
5.      Senantiasa menggunakan hukum yang telah ditetapkan Allah, seperti yang Allah jelaskan dalam al-Qur’an.
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqß§9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqß§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ  
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

            Ayat di atas merupakan perintah untuk taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri (ulama dan umara). Oleh karena Allah berfirman “Taatlah kepada Allah”, yakni ikutilah kitab-nya, “dan taatlah kepada Rasul”, yakni pegang teguhlah sunnahnya, “dan kepada Ulim Amri di antara kamu”, yakni terhadap ketaatan yang mereka perintahkan kepadamu, berupa ketaatan kepada Allah bukan ketaatan kepada kemaksiatan terhadap-Nya. Kemudian apabila kamu berselisih tentang suatu hal maka kembalilah kepad al-Qur’an dan hadits.[18]
            Ayat ini turun tatkala terjadi sengketa antara orang Yahudi dengan seorang munafik. Orang munafik ini meminta kepada Ka’ab bin Asyraf agar menjadi hakim di antara mereka, sedangkan orang Yahudi miminta kepada Nabi Saw. Lalu kedua orang yang bersengketa itu pun datang kepada Nabi Saw yang memberikan kemenangan kepada orang Yahudi. Orang munafik itu tidak rela menerimanya, lalu mereka mendatangi Umar dan si Yahudi pun menceritakan persoalannya, kata Umar kepada orang munafik “Benarkah demikian?” “Benar” jawabnya. Maka orang itu pun dibunuh oleh Umar.[19]
6.      Tidak meminta jabatan, atau menginginkan jabatan tertentu, sabda Rasulullah Saw “ Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (H.R . Muslim).

D.    Pemimpin ideal untuk Aceh
Melihat Aceh hidup dalam kondisi yang multi krisis, terutama krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Banyaknya kasus yang terungkap tentang kisah nyata pemimpin dari tingkat tinggi maupun rendah, melakukan korupsi dan bertindak tidak jujur terhadap amanah rakyat, telah membuat luka hati dan rasa tidak percaya rakyat kepada pemimpin. Kondisi ini sangat menakutkan, karena bila pemimpin tidak lagi menjadi panutan maka rakyat akan bertindak brutal dan kehilangan kendali dalam bertindak, seharusnya pemimpin menjadi contoh bagi rakyat untuk melakukan perbuatan mulia, yang bertujuan menciptakan kenyamanan dan kesejahteraan bagi rakyat. Aceh sekarang ini kehilangan kepercayaan rakyat untuk para pemimpin, padahal kepercayaan merupakan modal utama pelaksanaan pembangunan ke arah yang lebih baik.
Di sekitar kita yaitu Aceh pada khususnya, terdapat banyak sekali contoh-contoh pemimpin dengan tipe gaya dan prinsip masing-masing. Ada pemimpin yang sangat menonjol prestasi kerja dan integritasnya, tetapi tidak dicintai oleh bawahannya karena kurang mampu membina hubungan baik dengan orang lain. penampilannya yang kaku, kurang ramah, dan tidak peka, membuat orang disekitarnya tidak bersimpati terhadap pemimpin tersebut. Ada juga pemimpin yang baik hati, pandai bergaul tetapi lamban dan kurang disiplin, akibatnya para bawahan tidak memiliki semangat juang dalam meningkatkan kinerjanya. Juga ada pemimpin yang sering menonjolkan dirinya dengan menganggap bahwa semua pekerjaan dilakukan karena dirinya, dan kurang menghargai prestasi orang lain. bersikap arogan, zalim, dan hanya berbaik hati untuk kerabat dekatnya saja.[20]


[1]Hepi Andi Bastoni, Sejarah Para Khalifah, (Bogor: Pustaka Al-kautsar, 2009), hal. IX.
[2]Muhammad Abdul Jawwad, Kaifa Tamtaliku Quluuba Muwazdzhafiika, (terj), Abdurrahman Jufri, Trik Cerdas Memimpin Cara Rasulullah, (Solo: Pustaka Iltizam, 2009), hal. 10.
[3]Ernita Dewi, Menggagas Kriteria Pemimpin Ideal, cet 1, (Yogyakarya: AK Group, 2006), hal. 2.
[4]Ernita Dewi, Menggagas Kriteria Pemimpin Ideal… hal. V.
[5] Ibid…14.
[6]Ibid…hal. 15.
[7]Ibid…hal.
[8]Muhammad Idris Marbawi, Kamus Idris Al-Marbawy, juz 1, (Mesir: Mustafa Al-Halaby wa Auladuhu, 1359 H), hal. 28.
[9]Abdul Al-Rahman Ibnu Khaldun, Muqaddimat, (t.t.t: Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubs, t.t). hal. 191.
[10]Raihan Putri, Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam, cet 1, (Yogyakarta: AK Group, 2006), hal. 52.
[11]Wahbah Al-Zuhaily, Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, (Bairut: Dar Al-Fikr, 1984), hal. 661.
[12]Raihan Putri, Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam…hal. 54.
[13]Ernita Dewi, Menggagas Kriteria Pemimpin Ideal… hal. 16.
[14]Q.s Al-Ahzab: 21
[15]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur, jilid 4, (Semarang: Pustaka Rizki putra, 2000), hal. 3269.
[16]M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan, dan keserasian al-Qur’an, Volume 2, Cet 1, (Ciputat: Lentera Hati, 2000), hal. 458.
[17]Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an, (terj), As’ad Yasin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hal. 54.
[18]Ibnu Katsir, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (terj), M. Nasib Ar-Rifa’i, (Jakarta: Gema Insani, 1999), hal. 740-741.
[19]Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Berikut Asbabun Nuzul Ayat, (terj), Bahrun Abubakar, cet 4, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2006), hal. 343.
[20] Ibid…14.

0 Response to "kepemimpinan"

Posting Komentar